☰



Anemia pada Remaja Putri

Indonesia merupakan negara yang mempunyai tiga masalah gizi (triple burden) yaitu kekurangan gizi (stunting dan wasting), kelebihan gizi (overweight dan obesitas) dan kekurangan zat gizi mikro seperti anemia. Prevalensi anemia pada ibu hamil dan remaja putri di Indonesia masih tinggi dan menjadi masalah kesehatan masyarakat. Mengacu pada undang–undang nomor 36 tahun 2009 tentang kesehatan dan Peraturan Presiden No 72 tahun tahun 2021 tentang percepatan penurunan stunting, kelompok ibu hamil dan remaja putri merupakan sasaran kelompok prioritas atau kelompok rawan. Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi anemia pada ibu hamil 48,9%, dan prevalensi anemia pada usia 5-14 tahun (26,8%) dan usia 15-24 tahun (32%) (Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, 2023). Data SKI Tahun 2023 Anemia berdasarkan kelompok usia 15 – 24 Tahun yaitu 15,5% dan remaja putri 18%. Proporsi remaja putri usia 10 – 19 Tahun yang mendapatkan TTD 73,5%.

Berdasarkan data Riskesdas 2018, kepatuhan remaja putri mengonsumsi TTD sesuai standar masih sangat rendah 1,4% dan pada ibu hamil 38,1%. Strategi dan kegiatan dalam penerapan konsumsi TTD sangat penting termasuk upaya penguatan edukasi untuk meningkatkan kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil dan remaja putri.

Dalam rangka meningkatkan kepatuhan konsumsi TTD pada ibu hamil dan remaja putri diperlukan pengetahuan dan pemahaman yang baik tentang anemia, bahaya, dampak, dan penanggulangannya, termasuk suplementasi TTD untuk ibu hamil dan remaja putri. Upaya tersebut perlu dilakukan secara luas, melalui media penyebarluasan informasi dan edukasi kepada seluruh tenaga kesehatan, guru, kader termasuk kader kesehatan sekolah dan semua stakeholder terkait. Selanjutnya informasi tersebut diteruskan dalam memberikan edukasi kepada remaja putri dan ibu hamil.

Ilustrasi Anemia Remaja Ilustrasi Anemia Remaja

Apa itu anemia

Anemia adalah suatu kondisi tubuh yang ditandai dengan hasil pemeriksaan kadar hemoglobin (Hb) dalam darah lebih rendah dari normal. Hemoglobin berfungsi untuk membawa oksigen dan menghantarkannya ke seluruh sel jaringan tubuh. Kekurangan oksigen dalam jaringan akan menyebabkan fungsi jaringan terganggu yang mengakibatkan menurunnya konsentrasi belajar, berkurangnya produktivitas dan menurunnya daya tahan tubuh(Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, 2023).

Anemia merupakan penyakit yang sangat umum dan dikenal oleh kebanyakan masyarakat Indonesia dengan isitilah kurang darah yang merupakan masalah kesehatan yang dimana keadaan eritrosit dan masa hemoglobin yang beredar tidak memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh (Fitriany & Saputri, 2018).

Anemia juga merupakan penurunan kadar hemoglobin, angkat eritrosit dan hematokrit sehingga jumlah eritrosit dan kada hemoglobin (Hb) yang beredar dalam darah tidak dapat memenuhi fungsinya untuk menyediakan oksigen bagi jaringan tubuh (Prasetya et al., 2019).

Hemoglobin berfungsi untuk mengikat oksigen dan menghantarkannya ke seluruh sel jaringan tubuh. Kekurangan oksigen dalam jaringan akan menyebabkan fungsi jaringan terganggu. Misalnya kekurangan oksigen pada jaringan otak dan otot, yang akan menyebabkan gejala kurangnya konsentrasi dan kurang bugar dalam melakukan aktivitas.

Prevalensi Anemia pada Remaja Putri.

foto1

Batas Kadar Hb

Foto 1

Mengapa Rematri dan WUS Lebih Rentan Menderita Anemia?

Rematri dan WUS lebih mudah menderita anemia, karena :

foto1 foto1 foto1